PINTARIN.COM

ROMANTIS ITU IBADAH

Minggu, 12 Maret 2017 - 06:51

Romantisme suami-istri dalam keluarga adalah sebuah bentuk ibadah. Begitulah lukisan keindahan rumah tangga Rasulullah Saw.

Mari kita menyelami sebuah riwayat yang berkisah indahnya akhlak Nabi Saw tatkala membuat Aisyah, istri beliau berbunga - bunga.

Aisyah mengatakan, "Orang - orang Habasyah masuk ke dalam masjid untuk bermain (latihan berpedang), maka Rasulullah Saw bertanya kepadaku, 'Wahai Khumaira (panggilan sayang untuk Aisyah yang artinya si pipi kemerah - merahan), apakah engkau ingin melihat mereka ?' Aku menjawab, 'Iya'. Nabi Saw lalu berdiri di pintu, lalu aku mendatanginya dan aku letakkan daguku di atas pundaknya, kemudian aku sandarkan wajahku di pipinya. (Setelah agak lama) Rasulullah Saw pun bertanya, 'Sudah cukup (engkau melihat mereka bermain)?' Aku menjawab, 'Wahai Rasulullah jangan terburu - buru.' Lalu beliau (tetap) berdiri untukku agar aku bisa terus melihat mereka. Kemudian ia bertanya lagi, 'Sudah cukup?' Aku pun menjawab, 'Wahai Rasulullah, jangan terburu - buru.' Aisyajh berkata, "Sebenarnya aku tidak ingin terus melihat mereka bermain, akan tetapi aku ingin para wanita tahu bagaimana kedudukan Rasulullah Saw di sisiku dan kedudukanku di sisi Rasulullah Saw'."

Subhanallah, itulah secuil lukisan romantisme nuansa indah seperti itu di rumah kita ? Seyogyanya mulai diupayakan. Sebab sikap romantis adalah bagian dari nafkah batin yang sepantasnya diberikan suami kepada istri. Hal itu diamini Irawan Nuryana Kurniawan SPsi MSi, dosen psikologi Keluarga Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Menurutnya, meski pasangan hidup serumah, menghabiskan waktu di rumah, keberadaan bisa seperti tak ada. Itu terjadi ketika di antara pasangan tidak terjalin komunikasi mendalam yang melibatkan emosi.

"Kebersamaan mereka berlangsung hambar. Sehingga sikap romantis tak bisa tumbuh. Betapa hambarnya hubungan rumah tangga yang berlangsung demikian," tutur Irwan.

Klik juga:
WAHAI HATI YANG SUDAH LAMA TERTUTUP, TAK RINDUKAH KAU DENGAN SEBUAH CINTA YANG BARU?

BENTUK PERHATIAN
Lebih detail Irwan mengamati, dalam beberapa kasus, di rumah tangga yang sudah berumur, biasanya jalinan komunikasi cenderung menurun. Mereka sudah merasa sama - sama paham keinginan pasangannya masing - masing. Lebih - lebih suami yang memiliki kesibukan tinggi di luar rumah.

"Biasanya mereka sudah merasa saling memahami sehingga merasa tidak perlu berkomunikasi intensif." jelasnya.

Padahal, lanjut Irawan, komunikasi harus selalu dilakukan secara intensif. Jalinan komunikasi yang intens adalah pintu terciptanya bentuk - bentuk apresiasi. Sikap apreasitif yang diberikan dimungkinkan akan adanya stimulus ekspresi kasih sayang.

"Contoh kecil, ekspresikan sikap romantis itu lewat panggilan kesayangan. Biar lebih meningkat ikatan - ikatan emosional," pesannya.

Tak hanya itu, lanjutnya, jalinan komunikasi yang intens dan bentuk - bentuk apresiasinya juga berarti bentuk perhatian. Saat suami atau istri mampu memberikan apreasi, sikap perhatian berarti juga sedang diberikan.

"Sikap perhatian itu penting. Sebab, perselingkuhan terjadi biasanya karena kurangnya sikap perhatian," kata Irwan mengingatkan.

WUJUDKAN SYUKUR
Lebih indah dari itu, pesan Irwan, kesadaran untuk memberikan apresiasi kepada pasangan dalam bahasa Agama bisa dipahami sebagai wujud syukur kita. Oleh karena itu, suami - istri harus senantiasa mampu merawat kualitas spiritualnya. Sikap romantis mewujud sebagai bentuk kesadaran rasa syukur atas hidup yang kita jalani.

Sikap romantis harus bermuara dari kesadaran pribadi yang dipijakkan kepada nilai - nilai tertentu agar menjadi kokoh. Agama memiliki nilai yang memungkinkan untuk menstimulus sikap romantis seorang suami atau istri.

"Akar dari keutuhan rumah tangga adalah kokohnya spiritual building." ungkapnya.

Dalam rumah tangga, urai Irwan, konflik dan kekecewaaan pasti mewarnai. Misalnya, seorang istri masak lelah - lelah, tidak dihargai, bisa - bisa akan menimbulkan masalah. Namun, kekecewaan atau konflik akan tetap melahirkan sikap romantis jika seseorang memiliki kualitas spiritual building yang baik.

"Dengan spiritual building, seseorang tetap menyadari tujuan pernikahan dan menghargai komitmen pernikahannya." jelas Irawan.

WUJUDKAN EKSPRESI
Betapa penting kita untuk selalu merayakan sikap mesra dengan pasangan. Bahkan di tempat umum sekalipun, lanjut Irwan. Dalam batas tertentu, seperti menggandeng tangan pasangan adalah sikap romantis. Sejauh sekedar menggandeng tangan pasangan di tempat umum, dalam Islam tidak masalah.

"Sikap romantis tidak hanya omongan, Ekspresi seperti menggandeng pasangan saat jalan juga sikap romantis," ungkapnya.

Rasulullah Saw dahulu juga sering menunjukkan sikap romantis dengan ekspresi menjaga rasa humor. Irwan mencontohkan, Nabi pernah mengajak istrinya adu lari. Ekspresi semacam itu suami bisa pura - pura mengalah.

"Tujuannya adalah untuk merekatkan hubungan emosional." imbuhnya.

TAMPIL MENARIK
Tak sekedar ucapan dan sikap, sikap romantis suami juga bisa distimulus dari sikap dan penampilan istri. Ketika suaminya di rumah, alangkah indahnya jika istri mau tampil menarik untuk suaminya.

Dengan demikian, kata Irawan, Suami akan terstimulus untuk melontarkan ungkapan - ungkapan romantis nan indah.

"Makanya, terbangunnya sikap romantis dalam rumah tangga menjadi tanggungjawab bersama," jelasnya.

Sikap romantis perlu mendapat stimulus dari perilaku - perilaku harian. Jangan karena di rumah, lalu kita abai untuk berpenampilan menarik. Islam pun mengajarkan kepada kita bahwa tampil menarik yang sengaja diniatkan untuk suami atau istri itu bernilai ibadah.

"Berdandan untuk suami atau istri itu bernilai ibadah," ucap Irwan menegaskan.

Sekali lagi, pungkas Irwan, romantis itu sebagai bagian dari ibadah. Ketika kita tetap teguh pada Agama, sikap romantis akan memiliki sandaran nilai yang tegas sebagai perintah Agama.

"Saat kita menggandeng tangan istri dengan niat ibadah, dosa - dosa bisa berguguran. Subhanallah, indah bukan?" pungkasnya.

Sumber: VIVA.co.id






BERITA LAINNYA