Generate file : /sitefiles/pintarin/detail/firna-putri-pemulung-dan-buruh-cuci-yang-diwisuda-berpredikat-cum-laude.html FIRNA, PUTRI PEMULUNG DAN BURUH CUCI YANG DIWISUDA BERPREDIKAT CUM LAUDE
PINTARIN.COM

FIRNA, PUTRI PEMULUNG DAN BURUH CUCI YANG DIWISUDA BERPREDIKAT CUM LAUDE

Jumat, 29 Juli 2016 - 00:29
Foto: Tribun Jateng/Rival Almanaf - Dokumentasi Unnes

Firna Larasanti tampak cekatan memilah botol-botol plastik, di antara tumpukan barang rongsokan di rumahnya, RT 06 RW 01 Karanggeneng, Kelurahan Sumurrejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Selasa (26/7/2016). Botol-botol bekas itu dikumpulkannya dalam karung yang sudah disiapkan.

Putri pasangan pemulung, Misiyanto (57) dan Siti Suswanti (46), diwisuda dengan predikat cum laude. Rabu (26/7/2016), Firna mengikuti upacara wisuda sarjana di kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Putri kedua dari tiga bersaudara itu hanya memerlukan waktu 3 tahun 10 bulan untuk meraih gelar sarjana Ilmu Politik Unnes dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,77.

Penulis skripsi "Marketing Politik Pasangan Calon Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Hevearita Gunaryanti" itu juga pernah menjadi juara I lomba penulisan tentang otonomi daerah tingkat Provinsi Jawa Tengah.

"Saya masuk Unnes tahun 2012 lalu lewat seleksi mandiri. Pada semester pertama sempat kuliah dengan biaya sendiri, baru semester kedua mendapatkan beasiswa," kata Firna kepada Tribun Jateng.

Dengan pendapatan orangtua yang bekerja serabutan dan penghasilan tidak menentu, ia mencoba membiayai kuliahnya dengan keringat sendiri. Sesekali ayahnya Misiyanto bekerja sebagai buruh bangunan. Namun, Misiyanto lebih banyak menghabiskan waktu memulung. Suswanti, ibu Firna, kerap menjadi buruh cuci atau membantu suaminya memulung.

"Saya pernah memungut cengkeh di perkebunan, jaga warung orang di pasar, hingga mengajar di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)," ujar Firna.

Setelah menjadi mahasiswa ilmu politik, Firna merasa pekerjaan sambilannya kurang mendukung bidang studinya.

"Akhirnya saya pilih menulis, beberapa pekerjaan menulis lepas di Provinsi (Pemprov Jateng), DPRD pernah saya lakukan, kompetisi menulis juga saya ikuti, hasilnya lumayan membantu mencukupi biaya kuliah," kata dia.

Semua cara ia lakukan untuk mendapat tambahan yang demi merampungkan kuliahnya. Firna merasa beruntung mendapat beasiswa Bidikmisi. Namun, itu saja belum cukup memenuhi kebutuhan pendidikannya.

"Bidikmisi biaya pendidikan alhamdulilah digratiskan semua, per bulan juga mendapat uang saku Rp 600.000. Namun, terkadang pembiayaan kuliah lebih (dari itu), terutama saat skripsi," ujarnya.

Untuk mencukupi kebutuhan itu, Firna membantu memulung, memunguti cengkeh, berjualan di pasar, mengajar PAUD, hingga akhirnya menulis.

Setelah lulus nanti, ia bermimpi untuk bisa melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana. Ada dua universitas yang diimpikannya, salah satunya adalah Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Cita-citanya ingin menjadi dosen.

"Awalnya saya ingin jadi guru, tapi ketika masuk PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) Unnes sempat gagal, makanya sekarang ingin jadi dosen sebagai ganti tidak bisa jadi guru," kata dia.

Ibu Firna, Suswanti, mengatakan bahwa pendapatannya bersama sang suami tidak pasti.

"Ada uang Rp 50.000 ya langsung kami pakai untuk kebutuhan, jadi enggak pernah dihitung sampai sebulan," kata Suswanti sambil memasukkan botol ke dalam keranjang di depan rumahnya yang berdinding kayu dan multipleks.

Keterbatasan itu tidak membendung keinginan Suswanti dan suaminya untuk memeberikan pendidikan terbaik bagi putra-putri mereka. Tiga anak mereka saat ini menimba ilmu di bangku kuliah.

Latifah Mulyo (25), putra pertamanya, tengah menempuh pendidikan S1 di sebuah universitas swasta di Semarang. Firna sudah akan diwisuda Unnes. Sementara si bungsu, Fatihatul Rizky, saat ini masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

"Walaupun saya hanya lulus SD dan suami saya tidak tamat SD, namun kami berdua sepakat ingin anak-anak harus mengenyam pendidikan tinggi. Jadi apa pun harus diusahakan, alhamdulilah anak-anak juga dapat beasiswa," kata Suswanti.

Ia merasa beruntung karena anak-anaknya begitu gigih menempuh pendidikan, mencari beasiswa, hingga pendapatan tambahan.

Putra pertamanya, Latifah, selain berkuliah juga menjadi seorang tukang kebun untuk menutup biaya kuliahnya.

Suswanti mengatakan, ketika masih kecil, anak-anaknya diajak memulung sampah. Mereka seringkali mengeluh karena tidak sempat tidur siang dan harus membantu mengumpulkan botol bekas.

"Saya dalam hati nangis tapi saya jawab, makanya harus sekolah yang tinggi biar nanti enggak terus-terusan memulung," ucap Suswanti terbata.

Suswanti masih belum bisa tenang karena Firna belum memiliki pekerjaan tetap. Baginya, tugas sebagai orangtua belum bisa dikatakan tuntas jika belum mengantarkan anak hingga memiliki penghasilan tetap.

"Apa pun mimpinya, sekolah lagi atau bekerja, semoga selalu diridai Allah," ujar Suswanti.

HARI WISUDA
Paras cantik Firna semakin terlihat saat ia mengenakan pakaian wisuda lengkap dengan balutan jilbab dan toga di kepalanya.

Siang itu, ia diantar kedua orang tuanya menuju Gedung Auditorium Unnes, Sekaran Gunungpati, Rabu (27/7/2016).

Dalam upacara wisuda kedua Unnes tahun 2016 ini, ia bersama seribu lebih wisudawan lainnya dari program diploma, sarjana, master hingga doktor menjalani prosesi dengan penuh haru.

Impian ibunda Siti Suswanti untuk memiliki anak dengan gelar sarjana akhirnya terwujud.

Sebagai salah satu lulusan terbaik, Firna mendapat tempat duduk paling depan, dekat dengan podium.

"Saya merasa sangat senang dan bersyukur atas apa yang dicapai hari ini, mungkin jika saya bukan anak kedua orangtua saya saat ini saya tidak bisa berdiri di sini," terang Firna.

Ia memang tidak pernah mempermasalahkan profesi kedua orang tuanya. Lulusan dengan IPK 3.77 itu justru bangga dengan orang tuanya.

"Di luar sana ada anak yang orangtuanya sudah meninggal, atau berpisah, kondisi saya saat ini lebih baik dengan orang tua yang sehat dan akur," imbuhnya.

Setelah mendapatkan ijazah dan ucapan selamat dari Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman, dan menyelesaikan prosesi wisuda, ia pun menghampiri kedua orang tuanya memeluk, mencium, dan mengucapkan terimakasihnya.

Sumber: Tribun / Kompas




BERITA LAINNYA